genset gedung perkantoran

Gedung perkantoran di Jakarta sangat bergantung pada pasokan listrik yang stabil. Hampir seluruh aktivitas operasional membutuhkan listrik untuk tetap berjalan, seperti komputer, server, sistem keamanan, lift, hingga pendingin ruangan (HVAC).

Ketika terjadi pemadaman listrik, produktivitas dapat terganggu, layanan kepada tenant terhenti, bahkan berpotensi menyebabkan kerugian bisnis. Keberadaan genset menjadi bagian penting dari sistem kelistrikan gedung. 

Namun, memilih genset untuk gedung perkantoran tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan harga atau kapasitas terbesar yang tersedia. Banyak faktor yang perlu dipertimbangkan agar investasi yang dikeluarkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan.

Lalu, bagaimana cara memilih genset yang tepat untuk gedung perkantoran di Jakarta? Berikut panduan singkatnya.

Mengapa Gedung Perkantoran Membutuhkan Genset?

Gedung perkantoran butuh genset untuk memastikan operasional tetap berjalan saat listrik PLN padam, yang bisa terjadi karena gangguan teknis, cuaca, atau pemeliharaan. Genset menjaga sistem penting seperti lift, keamanan, server, dan AC tetap menyala secara otomatis melalui ATS.

Meskipun kualitas pasokan listrik di Jakarta relatif baik, risiko gangguan listrik tetap bisa terjadi akibat pemeliharaan jaringan, cuaca ekstrem, atau faktor teknis lainnya. Pada Januari 2025 saja, tercatat 1.873 pelanggan PLN di beberapa wilayah Jakarta mengalami pemadaman listrik sementara.

Saat listrik utama padam, beberapa fasilitas penting di gedung perkantoran biasanya harus tetap beroperasi, seperti:

  • Lift dan elevator
  • Sistem keamanan dan CCTV
  • Lampu darurat
  • Server dan perangkat IT
  • Sistem akses gedung
  • Pompa air
  • AC pada area tertentu

Ssistem pendingin udara (AC/HVAC) merupakan konsumen energi listrik terbesar di gedung perkantoran, dengan porsi mencapai sekitar 60% dari total penggunaan energi listrik 

Sebagian besar gedung perkantoran menggunakan genset standby yang akan aktif secara otomatis melalui sistem ATS (Automatic Transfer Switch) ketika pasokan listrik PLN terputus. 

Bagaimana Cara Memilih Genset Gedung Perkantoran di Jakarta?

Untuk memilih genset gedung perkantoran di Jakarta, ada beberapa langkah yang bisa diambil, seperti menghitung kebutuhan daya dan kapasitas, serta memilih jenis genset yang tepat. Selengkapnya, berikut cara memilih genset untuk gedung perkantoran di Jakarta.

1. Hitung Kebutuhan Daya Gedung Terlebih Dahulu

Langkah pertama dan paling penting adalah mengetahui total kebutuhan daya listrik yang akan disuplai oleh genset. Kesalahan yang banyak terjadi di lapangan yakni hanya melihat daya listrik terpasang dari PLN. 

Padahal tidak semua beban listrik harus ditopang genset saat kondisi darurat. Umumnya, beban dibagi menjadi dua kategori, yaitu beban kritis (peralatan yang wajib menyala) dan beban non-kritis (peralatan yang bisa dimatikan sementara)

Memisahkan beban kritis dan nonkritis sangat penting untuk menentukan kapasitas genset secara lebih efisien tanpa harus menanggung seluruh kebutuhan listrik gedung. 

Apa saja elektronik yang termasuk dalam beban kritis dan non-kritis? Simak tabel berikut ini.

beban kritis vs nonkritis

2. Perhatikan Kapasitas Genset yang Dibutuhkan

Setelah mengetahui total beban listrik, langkah berikutnya adalah menentukan kapasitas genset. Sebagai gambaran umum, genset untuk gedung perkantoran berkisar mulai dari 50–2000 kVa, tergantung jenis gedung.

jenis gedung & kapasitas genset

Besaran tersebut tentu dapat berbeda tergantung jumlah tenant, sistem HVAC, jumlah lift, serta fasilitas yang tersedia di dalam gedung. 

Kapasitas genset sebaiknya memiliki cadangan sekitar 20–30% di atas kebutuhan daya aktual untuk mengantisipasi lonjakan beban dan ekspansi di masa depan.

3. Pahami Perbedaan kW dan kVA

Saat memilih genset, Anda akan menemukan spesifikasi dalam satuan kVA, sedangkan kebutuhan listrik bangunan sering dihitung dalam kW. 

kW (kilowatt) menunjukkan daya listrik yang benar-benar digunakan oleh peralatan untuk bekerja, sedangkan kVA (kilovolt-ampere) menunjukkan total daya yang disuplai oleh sistem kelistrikan.

Hubungan antara keduanya ditentukan oleh power factor (faktor daya):

kW = kVA × Power Factor

Power factor (faktor daya) genset adalah perbandingan antara daya yang benar-benar digunakan peralatan (kW) dan total daya yang dihasilkan genset (kVA). Nilainya berkisar antara 0 hingga 1, di mana 1 berarti penggunaan daya paling efisien.

Pada gedung perkantoran, nilai power factor umumnya berada di kisaran 0,8 dan biasanya dapat dilihat pada panel listrik atau data kelistrikan gedung.

Contohnya:

  • Beban listrik gedung = 400 kW
  • Power factor = 0,8

Maka kebutuhan genset: 400 ÷ 0,8 = 500 kVA

Perhitungan ini penting agar kapasitas genset yang dipilih sesuai dengan kebutuhan listrik aktual gedung.

4. Pilih Jenis Genset yang Sesuai

Untuk gedung perkantoran, genset diesel masih menjadi pilihan yang paling umum digunakan karena menawarkan sejumlah kelebihan dibandingkan genset jenis lainnya. Keunggulan genset diesel di antaranya:

  • Efisiensi bahan bakar yang baik
  • Durabilitas tinggi
  • Perawatan relatif mudah
  • Cocok untuk kapasitas besar
  • Lebih andal untuk operasional gedung

Selain itu, penggunaan genset tipe silent canopy juga banyak dipilih untuk mengurangi tingkat kebisingan, terutama pada gedung yang berada di kawasan bisnis padat seperti Jakarta.

5. Pastikan Menggunakan Sistem ATS dan AMF

Terkadang memiliki genset saja tidak cukup. Saat terjadi pemadaman listrik, proses perpindahan dari sumber listrik PLN ke genset harus berlangsung cepat agar operasional kantor tidak terganggu. 

Sistem ATS dan AMF sangat direkomendasikan pada instalasi genset gedung perkantoran. Apa itu sistem ATS dan AMF?

  • ATS (Automatic Transfer Switch) berfungsi memindahkan sumber listrik secara otomatis dari PLN ke genset saat terjadi pemadaman.
  • AMF (Automatic Mains Failure) berfungsi mendeteksi gangguan listrik dan menghidupkan genset secara otomatis.

Kombinasi ATS dan AMF memungkinkan perpindahan sumber daya berlangsung cepat tanpa intervensi operator, sehingga aktivitas kantor tetap berjalan dengan gangguan minimal.

6. Perhatikan Lokasi Instalasi Genset

Jakarta memiliki keterbatasan lahan pada banyak gedung perkantoran. Oleh karena itu, lokasi instalasi genset harus direncanakan sejak awal. Ada beberapa hal yang harus Anda perhatikan untuk instalasi genset, seperti: 

  • Sirkulasi udara yang memadai
  • Sistem pembuangan gas buang
  • Akses untuk maintenance
  • Jarak aman terhadap area kerja
  • Sistem peredam suara
  • Ruang untuk tangki bahan bakar

Semakin besar kapasitas genset, semakin besar pula kebutuhan ruang instalasinya. Sangat disarankan bahwa pemilihan kapasitas dan layout ruang genset perlu dilakukan secara bersamaan.

7. Pertimbangkan Ketersediaan Layanan Purna Jual

Genset merupakan investasi jangka panjang yang membutuhkan perawatan rutin. Jangan hanya fokus pada spesifikasi unit. Pilih distributor genset di Jakarta yang memiliki layanan lengkap.

Layanan purna jual yang baik akan membantu menjaga performa genset tetap optimal selama bertahun-tahun. Layanan berikut juga mempermudah Anda saat memerlukan servis genset.

  • Tim teknis berpengalaman
  • Ketersediaan spare part
  • Dukungan instalasi
  • Layanan maintenance berkala
  • Respons cepat saat terjadi gangguan

8. Pilih Merek Mesin dan Alternator Berkualitas

Komponen genset terdiri dari mesin dan alternator. Beberapa merek mesin yang banyak digunakan untuk kebutuhan gedung perkantoran adalah Cummins dan Perkins.

Kedua merek ini adalah genset heavy-duty yang unggul dalam ketahanannya sehingga cocok untuk penggunaan skala menengah–besar. Spare part genset juga banyak tersedia di Indonesia, terutama di Jakarta.

Sementara untuk alternator, merek yang umum digunakan meliputi Stamford, Leroy Somer, dan Mecc Alte. Pemilihan komponen berkualitas akan membantu meningkatkan efisiensi bahan bakar, stabilitas daya, serta umur operasional genset.

9. Siapkan Kebutuhan di Masa Depan

Seiring waktu, gedung kantor biasanya akan butuh listrik yang lebih besar karena jumlah penyewa, perangkat IT, dan fasilitas lain terus bertambah. Karena itu, kapasitas genset sebaiknya dipilih dengan mempertimbangkan kebutuhan di masa depan.

Memilih genset yang terlalu kecil mungkin lebih murah di awal, tetapi berpotensi menimbulkan biaya tambahan ketika kebutuhan daya meningkat beberapa tahun kemudian. Jika Anda ragu, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan distributor atau teknisi genset terpercaya.

Kesimpulan: Pilih Genset Gedung Perkantoran yang Tepat 

Memilih genset untuk gedung perkantoran di Jakarta memerlukan perencanaan yang matang. Faktor utama yang perlu diperhatikan meliputi kebutuhan daya listrik, kapasitas genset, jenis genset, sistem ATS-AMF, lokasi instalasi, serta dukungan layanan purna jual.

cara memilih genset untuk gedung perkantoran

Jika Anda sedang mencari solusi genset untuk gedung perkantoran, pusat bisnis, maupun gedung komersial di Jakarta, DPS Power menyediakan berbagai pilihan genset diesel berkualitas lengkap dengan layanan konsultasi, instalasi, ATS-AMF, hingga dukungan maintenance profesional.

FAQs Tentang Genset Gedung Perkantoran di Jakarta 

Berapa kapasitas genset yang dibutuhkan untuk gedung perkantoran?

Kapasitas genset tergantung pada total beban listrik yang perlu disuplai saat terjadi pemadaman. Untuk gedung perkantoran, kapasitas yang digunakan umumnya berkisar antara 50 kVA hingga lebih dari 2.000 kVA, tergantung ukuran gedung dan jumlah fasilitas yang beroperasi.

Apakah semua beban listrik gedung harus ditopang oleh genset?

Tidak selalu. Banyak gedung perkantoran hanya menghubungkan beban kritis seperti lift, lampu darurat, sistem keamanan, server, dan pompa air ke genset untuk menghemat biaya investasi dan operasional.

Apa perbedaan genset standby dan genset prime?

Genset standby digunakan sebagai sumber listrik cadangan saat listrik PLN padam. Sementara itu, genset prime dirancang untuk menjadi sumber listrik utama atau digunakan dalam jangka waktu operasional yang lebih panjang.

Mengapa genset gedung perkantoran perlu ATS dan AMF?

ATS dan AMF memungkinkan genset menyala secara otomatis saat terjadi pemadaman listrik serta memindahkan sumber daya dari PLN ke genset tanpa perlu dioperasikan secara manual.

Berapa cadangan kapasitas yang ideal saat memilih genset?

Sebagai panduan umum, kapasitas genset sebaiknya memiliki cadangan sekitar 20–30% di atas kebutuhan daya saat ini untuk mengantisipasi lonjakan beban dan kebutuhan di masa depan.

Seberapa sering genset gedung perkantoran harus diservis?

Genset sebaiknya diperiksa dan diuji secara berkala sesuai rekomendasi pabrikan. Selain servis rutin berdasarkan jam operasi, banyak pengelola gedung juga melakukan pengujian genset secara berkala untuk memastikan unit siap digunakan saat terjadi pemadaman listrik.